• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Pemilik blog Catatan Cah Angon ini jurnalis tua di Solo, Ari Kristyono | 0813 2929 6689 | Twitter: @arikrist. Tulisan-tulisan lainnya bisa dibaca di http://www.timlo.net/

Friday, 20 April 2018

Karena Dendam Aswatama Menjadi Teroris

22:45 // by catatan cah angon // , // No comments




Sapuan jelaga itu sungguh tak mampu menutup bara dendam di wajahnya. Siapa pun masih bisa dengan mudah menemukan, bukan cuma coreng moreng hitam yang menutupi ketampanan satria berdada kekar itu. 

Dendam dan kemarahan telah mencetak otot-otot rahang menjadi lebih kaku dan bersudut, melenyapkan sama sekali kelenturan bibirnya untuk tersenyum.

Aswatama, bangsawan terakhir Hastinapura yang masih hidup itu tak lagi punya cermin sekadar untuk memastikan polesan penyamarannya cukup memenuhi kebutuhan. Tak seorang pun dari pihak lawan boleh dengan mudah melihat dan mengetahui penyusupannya. 

Tidak, sebelum nanti dia akan menumpahkan sebanyak mungkin darah musuh-musuhnya.

Nglandhak, itu bukannya pelanggaran atas Yudagama, Kakang? Kartamarma, satu-satunya sekutu yang masih tersisa, bertanya samar. Aswatama menganggap itu pertanyaan konyol, datang dari hati dan kepribadian yang sudah remuk tak berbentuk. Akan percuma saja dijawab. 

Dia hanya menyodorkan kaleng jelaga, dan memerintahkan sang pangeran –seharusnya dialah yang menerima perintah dari adik Sinuhun Duryudana Anumerta – untuk juga menyamarkan wajahnya.

Memang sangat benar, yudagama atau peraturan bertempur diberlakukan ketat dalam Bharatayuda yang belum lama usai. 

Medan laga hanya sah di Padang Kurusetra pada siang hari. Prajurit bertempur satu lawan satu secara seimbang, saling berhadapan dan mengadu kekuatan serta keahlian olah senjata. Pertempuran yang dimulai terang tanah akan berakhir saat matahari terbenam, ditandai dengan tiupan sangkakala panjang. Begitulah aturan yang harus dihormati kedua pihak.

Tetapi, jangan bilang Pandawa tidak curang. Sebaliknya, mereka sungguh pandai bermain muslihat di sela-sela aturan, sembari tetap menjaga citra diri seolah tanpa dosa.

Nyeri hati Aswatama mengingat gugurnya ayahanda Pandhita Dorna, mahaguru tempur yang kesaktiannya tanpa tanding. Bahkan kewibawaannya mampu membuat ciut nyali para kesatria Pandawa, tak seorang pun dari mereka berani berdiri dan mancal bertempur melawan bekas gurunya itu.

Namun, muslihat liciklah yang mengakhiri semua itu. Pandawa menyiarkan kabar bohong, seolah-olah Aswatama sudah mati. Maka runtuhlah moril dan semangat hidup sang begawan sepuh. Dan dalam keadaan termangu beku di tengah medan laga, seorang senapati pihak Pandawa, Dhestajumena memenggal leher ayahnya.

Tak lama setelah itu, Pandawa pun menyebar keterangan, membantah telah berlaku curang. 

“Yang kami siarkan adalah kematian Aswatama, seekor gajah pusaka yang membuat kami cukup terpukul,” demikian jawara diplomasi Bathara Kresna membual.

Sayang tak pernah ada yang menggugat tipu muslihat itu. Dunia terlalu terpukau dengan cerita berpoles pencitraan tentang Pandawa Lima yang diposisikan teraniaya belasan tahun hidup terbuang di belantara. Puntadewa yang berdarah putih, padahal pernah berjudi juga, bahkan tega mempertaruhkan istrinya sendiri. Harjuna yang dikabarkan kesatria gemar bertapa, tapi setiap kali meninggalkan kesatrian Madukara hasilnya justru pulang membawa istri baru.

Sangatlah besar kerugian Kurawa akibat kalah adu strategi kelicikan. Berpihaknya Bathara Kresna ke Pandawa, Prabu Salya ke Kurawa, seolah seimbang tapi sebenarnya justru memperlemah Kurawa terbukti dengan gugurnya Prabu Basukarna. 

Prabu Salya yang bertindak sebagai sais kereta perang, memosisikan kereta justru tepat di ruang tembak panah Arjuna, sehingga Karna yang notabene menantu Salya pun gugur dengan kepala terpenggal. Tidak pernah ada penyelidikan tentang itu, semua dianggap sah sesuai tata tertib pertempuran.

Tipu muslihat lain adalah Prabu Baladewa yang seharusnya bisa diandalkan berpihak ke Kurawa, tapi sosok sakti yang sayangnya tidak pernah belajar ilmu tipu daya itu, mau saja mengikuti anjuran untuk bertapa di Grojogan Sewu, sehingga absen dari Bharatayuda.

Dan siapa peduli terhadap perilaku bengis Pandawa yang jauh dari sifat kesatria? Prabu Duryudana gugur dengan cara yang sangat rendah, dihancurkan kakinya dan menemui ajal dengan cara yang sangat hina untuk seorang ratu agung. Dursasana dibelah dadanya dan darahnya untuk keramas Drupadi. Rekyana Patih Sengkuni tewas dengan cara ditarik kakinya hingga raganya koyak terbelah.

Mereka bukan kesatria, hanya binatang yang haus kuasa, lalu menutupi perilaku busuknya dengan gebyar menyilaukan kemunafikan. Berbagai dalih dan pembenaran, bisa saja dilakukan, karena mereka menguasai media dan arus informasi. 

“Bahkan dewa pun tidak adil, mereka memihak Pandawa,” keluh Aswatama geram.

Memanfaatkan gelap malam dan kelengahan lawan, rasanya bisa dibenarkan. Pandawa tengah dimabukkan oleh kemenangan, bahkan kedaton Hastinapura sudah mereka kuasai sepenuhnya. Tapi, cukup seorang Aswatama masih bisa menyakiti mereka dengan satu dan lain cara. Kegelapan malam akan membantu.

Barangkali sudah waktunya hukum-hukum perang diubah. Rasanya terlalu usang mempercayai bahwa peperangan haruslah berlangsung dengan adil. Musuh ada untuk dihancurkan, soal cara seharusnya tidaklah menjadi masalah.

Kicauan burung malam terdengar bagai ejekan, ketika di tengah kegelapan dua kesatria mengendap seperti musang, merayap bagai cacing mendekati bale agung. Kedhaton Hastinapura kini dijaga ketat oleh prajurit Pandawa. Tetapi sebagai sentana kerajaan, mereka paham setiap alur dan sudut yang bisa digunakan bersembunyi.

Sebelumnya, di garis belakang persembunyian mereka, sempat hadir Resi Krepa dan Betari Wilutama. Dua sekutu yang diharapkan membantu dengan kesaktian mereka yang luar biasa. 

Namun, Resi Krepa justru hanya hadir untuk mengingatkan bahwa tindakan mereka tidak bisa dibenarkan. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan apapun, tak juga memberi kepuasan. Begawan Sepuh itu tampaknya sudah terlalu muak melihat hasil peperangan yang menimbulkan derita luar biasa bagi siapa pun, baik yang menang apalagi yang kalah.

Tidak ada jalan lain, mereka yang tidak mau membantu sekalian saja disudahi. Aswatama menghunus pusaka Kyai Cundamanik, satu tikaman lebih dari cukup, raga ringkih Resi Krepa tumbang berkalang tanah.

Yang pantas disesali adalah langkah surut Betari Wilutama, ibunda yang selama ini tak pernah sungguh-sungguh nyata. Bidadari penghuni Kahyangan serba mulia, tapi jangankan menimang dan membesarkan, kelahiran Aswatama justru berlumur kehinaan karena dunia mengenalnya dilahirkan oleh seekor kuda betina.

Kemarin, tiba-tiba Ibunda Wilutama hadir dan memberikan bantuan. Cahaya terang benderang menerangi terowongan yang digali Aswatama dan Kartamarma untuk menuju ke sarang musuh. Kesalahan terjadi ketika Aswatama meski sudah bersumpah untuk patuh tidak menengok ke belakang, merasa penasaran dan menoleh untuk mengetahui sumber cahaya.

Sepasang payudara Sang Dewi bersinar. Aswatama tergagap menatap kemolekan yang sama sekali asing. Bunga dan putik bunda kandung yang seharusnya menjanjikan kehidupan bagi setiap bayi, tapi tak pernah menghangati dan menyalurkan susu ke raga Aswatama.

Akhir yang pedih. Sang Dewi bukan hanya marah karena auratnya terlihat oleh anaknya sendiri. Bantuannya seketika dihentikan, bahkan terucap kutuk Aswatama tidak akan berumur panjang, niatnya membalas dendam akan kandas. Itu ucapan Wilutama sebelum mengudara kembali ke Kayangan.

Kembali rasa sakit menyengat dada. Dikutuk cepat mati oleh ibu kandung yang tak pernah benar-benar dikenalnya, bukan hari yang  baik. 

Aswatama memang tak asing dengan sumpah serapah, kutukan, perilaku kasar para bangsawan Astina selama dia mengabdi. Tapi....

“Duh, Kanjeng Ibu.... baiklah kalau kau memang ingin anakmu segera mati, terjadilah. Tidak akan kusesali. Hidup juga cuma anak kuda.... he he he heh heh heh,” gelak Aswatama terdengar aneh, bikin merinding yang mendengar.

Malam itu banjir darah di paviliun Pandawa. Pancawala dan istrinya Pergiwati, tewas tanpa sempat bangun dari ranjang. Destajumana terjungkal oleh serangan tiba-tiba. Begitu pun Banowati, istri Prabu Duryudana yang mencari suaka di Pandawa, roboh. Namun Banowati sepertinya berhasil membalas menusuk mati Kartamarma.  

Aswatama, tentu saja, tidak selamat.

Alur cerita tragis itu tidak akan terungkap ke luar. Pandawa sebagai penguasa arus informasi tidak akan membiarkan Aswatama menjadi martir jagoan. 

Pengumuman resmi menyebutkan sisa-sisa gerombolan Kurawa menyusup secara licik dan membunuh keluarga Pandawa yang sedang lelap tidur. 

Mereka juga berniat memerkosa Dewi Banowati yang ada dalam perlindungan Pandawa.

Siaran pers itu menyebutkan, pengawal Pandawa berhasil melumpuhkan serangan itu. 

Bahkan, Aswatama yang berhasil masuk ke salah satu kamar tidur utama, bisa dilumpuhkan oleh bayi Parikesit yang baru saja lahir. 

Sang Bayi menendang pusaka Pasopati dan mengenai dada Aswatama hingga tewas seketika.

Parikesit, seketika dipuja-puji oleh rakyat, sebagai bayi sakti yang pantas memimpin kerajaan Astinapura di Orde Pandawa.

Banyuanyar, 21 April 2018



















Wednesday, 16 August 2017

Berburu Kepiting Gotho, Melawan Bosan di Karimunjawa

11:36 // by catatan cah angon // , , // No comments


Kepiting Gotho | Ari Kristyono
Bahkan, berwisata di Karimunjawa pun suatu kali bisa juga membosankan.  Ini tentu kasuistis, misalnya ketika hujan sepanjang hari mengguyur wilayah kepulauan 60 mil laut di utara Jepara, dan memaksa wisatawan yang paling betah di pantai dan menceburkan diri ke laut pun, terpaksa memilih bernaung di bawah atap.

Untungnya, selepas pukul 21, hujan benar-benar reda, awan gelap menyibak menampakkan bulan sabit dan beberapa bintang.

“Kita berburu kepiting saja, mau?”

Itu ide Gelora Gusnama atau lebih dikenal dengan nama lokal, Pak Agus, sobat masa kecil yang sudah hampir dua dekade ini memilih hidup dan berbisnis di Karimunjawa. Jika Anda pernah ke Karimunjawa dan menginjakkan kaki di Bukit Love, pria asal Solo inilah pemiliknya.

Berburu kepiting? Langsung kebayang hewan berkaki delapan dengan capit-capit kekar agak menakutkan bagi yang tidak biasa menyentuhnya dalam kondisi hidup. Tapi kalau sudah matang berbumbu, hanya pengidap alergi dan orang bodoh saja kira-kira yang menolak.

Tentu saja maulah, siapa tidak mau makan kepiting segar karena baru ditangkap? Gratis lagi.

Yang dimaksud Gelora ternyata bukan kepiting bakau (Scylla sp) yang biasa dijadikan menu di restoran seafood. Agak jauh di ujung utara Pulau Kemujan (Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan adalah dua daratan terbesar di kepulauan Karimunjawa, keduanya kemudian menyatu karena pendangkalan rawa) terdapat hutan di tepi pantai, dengan tanah keras berkarang. Di situlah banyak kepiting gotho, bersarang dalam lubang-lubang berdiameter sekitar 10 cm di tanah.

Sampai saat nulis cerita ini, saya belum berhasil menemukan apa nama latin kepiting gotho, atau nama lain yang dikenal. Tapi dari ciri-cirinya, ini jelas beda dengan gambaran yuyu gotho, jenis kepiting besar beracun yang dikenal di perairan Jepara dan Rembang. Entah bagaimana bisa ada nama yang sama, di daerah yang berdekatan, tapi yang dimaksud berbeda. Gotho di Jepara konon sangat beracun, bisa mematikan. Yang di Karimunjawa, berukuran sekepalan tangan orang dewasa, dan enak dimakan.

Dengan berbekal senter dan karung, kami pun berangkat. Begitu memasuki hutan,  langsung terlihat lubang-lubang sarang kepiting gotho bertebaran. Cara berburu cukup mudah, kata Gelora, cukup pasang mata dan langsung terkam dengan tangan kosong jika terlihat kepiting merayap.

Cukup mudah dengkulmu!

Nyatanya, tak gampang menemukan –apalagi menangkap—kepiting gotho. Meski sesekali terlihat ada gerakan di tanah, rasanya terlalu cepat untuk dikejar. Kepiting gotho ternyata lebih kecil dari kepiting bakau, dan setiap kali terlihat mereka cepat sekali merayap lalu menghilang ke salah satu lubang.

Brian dan hasil tangkapannya | Ari Kristyono
Namun, bagi yang terbiasa memang mudah. Gelora mengajak anak laki-lakinya, Brian, yang dengan tangkas langsung berhasil menangkap seekor kepiting yang terlambat menyelamatkan diri masuk liang. Yang sudah telanjur bersarang pun dirogoh dan ditarik paksa.

Perburuan berakhir memuaskan, karena setelah dua jam menyusuri hutan dan hanya berhasil menangkap 6 ekor kepiting, kami bertemu warga setempat yang juga sedang berburu. Melihat perolehan kami, dia tanpa banyak omong langsung merogoh karungnya dan memindahkan ke karung kami.

Total ada 25 ekor kepinting gotho yang dibawa pulang. Gelora memasaknya dengan cara yang cukup unik. Cairan di bawah cangkang kepiting dikumpulkan, lalu dibumbui sehingga menjadi semacam saus yang enak. Jujur memang tidak selezat kepiting bakau atau rajungan yang berdaging tebal. Namun, berburu kepiting gotho bisa menjadi selingan yang menyenangkan, saat berwisata ke Karimunjawa.


Saturday, 18 March 2017

Mas Ganjar Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi, Mboten Pitados

00:38 // by catatan cah angon // , , , // No comments


Ganjar Pranowo | Antaranews.com

Ganjar Pranowo tampaknya lagi galau berat. Ini di luar kasus yang menyeret namanya sebagai salah satu penerima bocoran dana e-KTP sewaktu masih di Komisi II DPR RI beberapa tahun lalu. Beberapa pekan ini, Mas Gubernur Ganjar seperti kelimpungan mencoba memperbaiki komunikasinya dengan kalangan pewarta.
Lewat beberapa cara, Ganjar menghubungi satu dua kelompok wartawan di kotaku, mengajak ketemuan. Juga berkunjung ke kantor beberapa media. Lalu sempat ada kumpul-kumpul dengan pemimpin media lokal, bahkan menjanjikan pertemuan yang lebih sering. Untuk apa?

Saya wartawan sejak Jawa Tengah dipimpin oleh Gubernur Ismail yang kental sekali dengan hobinya menikmati kesenian tradisi. Semua statement dan wawancara dilakukan sambil senyum, bahkan ketika itu ketika menkonfirmasi pelarangan budayawan Emha Ainun Najib berbicara di depan publik di wilayah Jawa Tengah, karena ceramahnya dianggap tidak sesuai dengan jiwa Pancasila.

Lalu digantikan oleh Gubernur Suwardi, ini masih paket Orba, saat Jawa Tengah selalu dipimpin oleh Gubernur dari unsur TNI AD, jenderal bintang dua, yang ditempelkan ke Golongan Karya. Suwardi tergolong irit bicara, jarang tersenyum, tapi getol mewarnai apa saja dengan cat kuning. Batang pohon, pagar, karpet, gedung pemerintah, trotoar, seragam, apa saja. Bahkan TNI pernah berang karena salah satu patung Pangeran Diponegoro kedapatan dicat kuning sorban dan jubahnya.

Setelah itu reformasi, tapi Jawa Tengah masih dipimpin oleh tentara. Mardiyanto, seorang yang berwajah kebapakan, senyum sering mengiringi tuturnya. Tidak pernah terlihat dia marah atau meledak-ledakan emosi di depan umum. Ya, begitulah yang saya ingat.

Sangat berbeda dengan penggantinya. Lagi-lagi masih tentara, bahkan jenderal bintang tiga. Mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo, dipercaya PDI Perjuangan untuk menjadi gubernur. Wartawan yang pernah mewawancarainya pasti ingat gaya bicara dan kelakuan Bibit yang sering nyelekit, kasar dan sering tidak menjawab pertanyaan.

Baru pertama kali Jawa Tengah memiliki gubernur dari sipil. Ganjar Pranowo, mestinya menang karena dijagokan PDIP. Sebelum itu wong Jawa Tengah sedikit sekali pernah mendengar namanya. Perbedaannya dengan Bibit, Ganjar memang sedikit lebih seolah-olah egaliter, ciri khas kebanyakan politisi dari partai yang berbasis massa wong cilik.

Tapi mewawancarai Ganjar harus siap dengan pertanyaan balik: kamu wartawan mana, apa kamu sudah riset? Apa sudah tahu masalahnya (la kalau tau ngapain tanya) ? Dan jawaban-jawaban tak komunikatif seperti itu.

Sekian gubernur berlalu dan pembangunan di Jawa Tengah ya begitu-begitu saja. Bukan soal pesat atau kurang. Begitu-begitu saja, maksudnya ya sudah berjalan seperti di provinsi lain. Infrastruktur tumbuh di sana-sini, tapi jalan2 provinsi tiap tahun bopeng berantakan. Waduk dibangun, tapi saluran irigasi mungkin hancur. Dan sekian plus minus lainnya, yang membuat Jawa Tengah tidak pernah lebih menonjol gemilang dibandingkan dengan daerah lain.

Saya ingat, Jokowi waktu masih Walikota Solo pernah dikabarkan akan dicalonkan jadi Gubernur Jateng. Saya kebetulan yang mengkonfirmasi kabar itu, dan Jokowi menjawab kalau diizinkan memilih dia akan menolak menjadi Gubernur Jateng, dan lebih tertarik menjadi Gubernur DKI dan memang akhirnya demikian.

Alasannya, sebagian off the record. Tapi antara lain, Jokowi mengakui tidak mudah membangun Jawa Tengah dengan anggaran pembangunan yang kecil dibandingkan dengan luasnya wilayah. Belum lagi sekarang ini era otonomi daerah yang membuat penguasa kabupaten dan kota seperti raja-raja kecil dan agak sulit memikirkan kepentingan yang lebih luas dari wilayah mereka.

Sekian gubernur berlalu, dan saya percaya bahwa tidak satu pun di antara para pejabat itu yang harus jauh-jauh dari Semarang ke Solo hanya untuk berdialog. Kalaupun ingin ketemu, sebaiknya dalam forum diskusi dengan tema aktual yang sudah ditentukan. Yang hadir tak usah dibatasi wartawan senior atau pimpinan media atau reporter magang, toh yang hadir tetap akan terbatas mereka yang punya kepentingan dengan berita, selama ada kepastian pertemuan itu steril tanpa .... hmmm you know what I mean.

Lalu berkomunikasilah dengan gamblang, tidak beretorika, tidak plinthat-plinthut. Bila kurang pede dengan kemampuan berkomunikasi, cobalah ajak tokoh atau pakar sesuai tema, yang bisa lebih memperkaya tulisan kami nanti. Setidaknya ajaklah moderator yang bisa mengelola diskusi menjadi forum yang hidup dan bernas, sebaiknya bukan dari wartawan juga.

Setelah pulang dari pertemuan, apakah semua pihak akan puas? Embuh, tapi ini memang bukan soal siapa memuaskan siapa. Ini cuma menyambung komunikasi yang beku dan macet. Ada sekian banyak persoalan di Jawa Tengah yang mungkin ingin diketahui dan perlu ditulis wartawan, alangkah menyenangkan kalo narasumber primer mau menjelaskan dengan data yang cukup, dalam suasana yang tidak kemrungsung seperti saat wawancara doorstop.

Mas Gubernur, karena tugas dan eksistenti wartawan adalah berita. Maka kami harus menjaga berjarak sepantasnya, agar sikap skeptis dan kritis tetap terjaga.

Bahkan jika MBOTEN KORUPSI, MBOTEN NGAPUSI adalah slogan yang masih sampeyan jaga, maka tugas kami adalah bersikap MBOTEN PITADOS.

Demikian.

Banyuanyar, 18-3-2017





Friday, 23 September 2016

Pilgub DKI, Langkah Awal SBY Menyelamatkan Indonesia

01:39 // by catatan cah angon // , , , // No comments

Foto pinjam dari news.merahputih.com
AGAR  bisa menengok isi kepala Pak Mantan, barangkali kita harus ikut duduk di salah satu sudut rumah Cikeas yang  megah, dengan joglo agung dan taman asri mengelilingi. Bayangkan beliau duduk di kursi ruang kerjanya yang super rapi dan lengkap layaknya perkantoran modern yang ditata dengan citarasa tinggi.

Maklum, Doktor HC Susilo Bambang Yudhoyono, Jenderal Purnawirawan TNI,  seorang  yang menyukai keteraturan, efisien dan tentu saja kantor semacam itu memberikan rasa superior pada siapa pun yang duduk di kursi utama. Soal Partai Demokrat saat ini posisinya level gurem, itu adalah efek badai politik, semacam  force majeur akibat kesalahan di sana sini yang masih bisa ditangani.

Jangan berpikir ini soal ambisi. Sebagai seorang militer sejati, SBY yakin seyakin-yakinnya, dirinya bukanlah figur yang kemaruk dengan kekuasaan. Namun kegelisahannya adalah soal pekerjaan dua periode yang ternyata belum selesai. Siang malam, mejanya penuh dengan laporan tentang Indonesia yang berada dalam bahaya, disetir oleh tangan setan asing menuju jurang kehancuran.

Saking galaunya, sekarang ini bahkan SBY sudah tak berselera lagi memetik gitar dan menggubah lagu. Jangankan membuat  album, studio musik di belakang rumah pun sudah lama tak ditengoknya.

Rasa was was terbawa dalam mimpi, bahwa Partai Demokratlah yang akan kembali mengembalikan bangsa Indonesia kepada kejayaan. Setidaknya seperti kejayaan 10 tahun dulu, ketika menteri-menteri di kabinet sebagian besar dari partainya, atau dari partai koalisi yang apa boleh buat harus diberi posisi terhormat sebagai mitra juang.

Saat itu Indonesia dalam kondisi aman sejahtera.  Selalu ada alasan untuk kumpul-kumpul bahagia di Cikeas, entah itu kawan separtai atau para menteri. Dan pasti selalu ada peran untuk Ibu Negara yang ramah dan sering berkenan memberikan sumbang saran penting mengenai ini itu demi kepentingan bangsa dan negara tentunya.

Nah, demi menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia itulah kemarin Pak SBY kembali menampung forum curhat para petinggi partai riuh yang kecewa karena barusan merasa ditelikung oleh koalisi yang katanya kekeluargaan tapi faktanya sangat mengecewakan. Diam-diam memasang calon sendiri, malahan ada yang terang-terangan beralih mendukung lawan utama pada hitungan hari-hari akhir.

Peluh menetes di dahi Pak Mantan. Bu Ani duduk tegak dengan mimik serius. Ibas mencoba bersikap sama, tapi konsentrasinya pecah dengan bunyi bip bip HP di saku kemeja lengan panjangnya. Tingkat ketegangan saat itu bisa dibayangkan, sedikit di atas waktu satu-satu menteri dan petinggi partai ditangkapi KPK karena ketahuan berseru-seru “Katakan Tidak Pada(hal) Korupsi” dulu.

Lalu keluarlah sabda:  Sekaranglah waktunya, kita selamatkan Indonesia.... dan tidak tanggung-tanggung, Pak SBY pastilah tidak sekadar memikirkan menang di Pilgub DKI. Ini cuma jalan awal, beliau benar-benar ingin menyelamatkan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Pengorbanan besar dilakukan, sang putra pembarep Agus Harimurti yang karirnya cukup cemerlang di TNI AD diminta pensiun dini demi membangun jalan impian yang sama sekali bukan bermuara di tahun 2017 atau bahkan 2019. Pak Jenderal sepuh pasti memahami, saat terbaik membentangkan layar adalah ketika badai euforia dua periode berakhir pada tahun 2024.

Tak soal jika demi langkah kecil ini harus memborong habis kursi teman koalisi, agar mereka mau mendukung tanpa harus titip calon, yang proses rapatnya saja bisa termehek-mehek semalam suntuk. Indonesia adalah negeri yang kaya makmur,dan selama dua periode lalu bukti-bukti kemakmuran itu cukup signifikan menumpuk  di Cikeas.

Sebuah lakon baru menggulir di kelir wayang di depan kita. Sanggit cerdas ki dalang yang sanggup menampilkan apapun yang tak lazim... Mayor (calon bupati pun biasanya berpangkat minimal kolonel) muda yang ingin merengkuh wahyu, jalannya tentu masih panjang dan halang rintangnya menyimpan lebih banyak kejutan ketimbang medan beranjau yang biasa dia hadapi.

Namun sebelum itu kita akan menonton Sengkuni, Dursasana, Buta Cakil, juga dagelan tamu yang memaksakan kelucuan sebagai strategi bertahan hidup seadanya. Selamat menonton.

Banyuanyar, 23 September 2016

Saturday, 24 October 2015

Aku dan Temanku

02:20 // by catatan cah angon // No comments


Berteman itu sesuatu yang bulat
Kita menggelinding ke arah yang sama, selalu arah yang sama
Juga memantul hingga ketinggian yang sama, untuk kembali melenting bersama pula

Teman tidak merebut, tapi berbagi
Bukan menggurui, tapi mengisi
Tidak mengekang, hanja menjaga

Bahkan tak perlu dendam manakala seorang teman berkhianat
Mungkin dia hanya lupa atau bosan

Sedangkan kita semua terlalu banyak kesempatan untuk memilih simpangan jalan

Demikian
Solo, awal Februari 2012

Pak Jokowi, Hutan Kita Terbakar Dahsyat. Bersyukurlah!

01:55 // by catatan cah angon // , // 1 comment

Fotonya pinjam dari Batam Today
TUHAN agaknya  terus-terusan menguji Presiden Jokowi. Menjelang setahun kepemimpinannya kita dihajar dengan kurs dollar dan krisis ekonomi yang menghajar banyak negara. Di sini Jokowi lulus, mampu meredam dan bak kapal niaga melewati perairan berkarang, perekonomian Indonesia meski melambat berhasil selamat dari karam, bahkan masih tercepat dari negara-negara lain.

Sekarang kebakaran hutan yang membuat Indonesia seperti mencekik rakyatnya sendiri, plus menjadi eksportir asap terbesar di Asia Tenggara. Bencana asap sudah terjadi lebih dari 10 tahun, tapi tahun ini sangat parah. Berdasarkan alat ukur yang dimiliki pemerintah, kualitas udara di Sumatra dan Kalimantan, beberapa pekan ini sangat jauuuuh di atas ambang batas aman. Angkanya beberapa kali lipat dari yang terjadi tahun lalu.

Sisi baiknya, pemerintah jujur mengakui soal kondisi yang sangat buruk ini, yang mungkin tak akan terjadi saat rezim Soeharto dulu.

Permasalahannya, sampai kapan? Dulu sewaktu Capres, mungkin dia belum memiliki cukup data tentang carut-marutnya situasi yang berkaitan dengan pembakaran lahan. Tentang perilaku pengusaha perkebunan sawit. Tentang regulasi pemerintah daerah yang mengizinkan pembakaran lahan. Maka dia berjanji tahun 2015 tidak akan ada lagi kabut asap.

Tapi, justru di tahun pertamanya janji itu gagal ditepati. Menjelang musim hujan adalah saat paling tepat untuk membuka lahan dan mulai menanam. Cara paling efisien, ya dibakar. Tak peduli lahan sudah terlalu kering, masa bodoh akibatnya. Pola pikir dan perilaku kemaruk ini diperparah dengan fenomena alam El Nino yang membuat kebakaran di mana-mana menjadi tak terkendali. NASA pun mengakui, kebakaran yang memuncak di pertengahan Oktober ini sudah kelewat parah dan susah ditanggulangi.

Pak Jokowi, berterimakasihlah kepada Tuhan karena ujian ini tidak tanggung-tanggung. Dengan kondisi luar biasa seperti ini, semua faktor di balik kebakaran menjadi terungkap. Siapa saja yang kini tengah disidik Polri, perusahaan apa yang sampai diboikot negara tetangga, kondisi geologi lahan yang terbakar, cara-cara pemadaman api yang gagal dan yang berhasil, alat dan infrastruktur apa yang harus diadakan. Siapa pejabat yang komitmen dan siapa yang menggunting dalam lipatan.

Tangkaplah itu dengan cerdas seperti biasa, lalu ciptakan cara untuk menghajar semuanya sampai tuntas.

Tanpa Jokowi pun, kebakaran hutan akan sirna beberapa pekan lagi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana kemarin mengumumkan ramalan hujan akan mulai turun tanggal 27 Oktober besok. Semoga deras, rata dan lama.

Tapi, saya percaya Jokowi berbeda dengan pemimpin sebelumnya yang selalu membiarkan kabut asap terulang lagi (kalau ternyata sama, ya sudah gak usah dua periode menjabat) setiap tahun. Saat api sudah padam nanti, Jokowi tentu akan terus bekerja menyempurnakan cara untuk nyaur janjinya saat kampanye dulu, tahun 2016 kabut asap tak akan mencekik kita lagi.

God bless you, Mr President.

Banyuanyar, 24 Oktober 2015




Wednesday, 21 October 2015

Mendaki Gunung, Belajar dari Pak Ismadi

22:03 // by catatan cah angon // , , // 7 comments

Ini anak-anak Mahafisippa UNS waktu Latihan (Diksar XXIX) di Tlogodringo - rik


GUNUNG LAWU di dekat Padang Cokrosuryo, sekitar tahun 1990 sekian, tepatnya lupa. Pria sepuh itu melangkah pelan menapaki jalan setapak yang menanjak curam. Kecepatannya konstan, tidak cepat tapi jelas bukan karena kekurangan power. Langkahnya nyaris tak terdengar, mungkin karena perawakannya yang kecil.

''Ayo istirahat dulu sini ...''

Beliau mengeluarkan kompor mini, lalu merebus air. Dalam waktu singkat, kami sudah menikmati secangkir cokelat panas yang sangat lezat di tengah dinginnya udara ketinggian 3.000 meter.
Ismadi As, kami biasanya memanggilnya Pak Is, beliau dedengkot SAR di Jawa Tengah. Malam itu kami sedikit berbincang, kurang lebih begini:

''Lelah, Pak?''

''Ya... saya sudah tua Mas.'' Senyumnya selalu menyertai setiap lesan yang terucap.
’Pak Is lambat, tapi dari tadi gak berhenti-berhenti,’’

‘’He he ya wis... mendaki gunung itu memang enaknya gini, dilaras dan dinikmati. Saya kan masuk ke rumah mahluk lain, sebaiknya memperkecil gangguan kepada yang punya rumah. Sebenarnya, setiap yang kita bawa ini bisa mengganggu mereka.’’

Lama setelah itu, saya baru sedikit demi sedikit mengerti, mahluk lain yang disebut Pak Is, bukanlah para lelembut dan mahluk halus penguasa gunung seperti yang pikir waktu itu.

Saya memperhatikan, Pak Is pendaki yang melangkah nyaris tanpa bunyi. Perlengkapan mendaki lengkap meski tak berlebihan. Perbekalan juga selalu cukup untuk sendiri dan berbagi. 

Saya perhatikan, Pak Is jarang menyalakan lampu senter kalau tidak perlu, apalagi membawa radio kecuali radio komunikasi yang dipakai seperlunya. Jelas bukan juga pendaki yang mencoret-coret batu, membuat api unggun dengan sembrono, mengukir namanya di pohon apalagi membuang sampah di sepanjang jalan.

Mungkin itu semua makna tidak menganggu makhluk lain. Kebisingan, mungkin cahaya senter, membuat hewan terusik, selain itu mengurangi kenikmatan dan kewaspadaan saat di tengah hutan. Saya pernah membuktikan, berdiam selama beberapa jam tanpa suara sedikit pun di malam hari di hutan. Berikutnya, suara serangga, rengekan rusa di kejauhan, burung malam, suara daun terbuai angin, menjadi musik yang indaaaah tak terbantah.

Sekali menyalakan senter, bahkan merokok, akan mengurangi kemampuan mata melihat di kegelapan. Sebenarnya, mata kita mampu berakomodasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saat bulan purnama, adalah saat yang sangat baik untuk mendaki, karena kita hampir tidak butuh senter.

Hmm.. saya jadi memikirkan sekian puluhan pendaki yang mengalami kemalangan di gunung. Sekian banyak kerusakan lingkungan: gunung jadi kumuh penuh sampah, hutan terbakar.  Banyak yang bisa saya ingat.

Lalu saya berpikir, kalau mereka mendaki gunung seperti Pak Ismadi, sebagian besar dari kecelakaan dan kerusakan alam itu sangat mungkin tidak perlu terjadi.


Maturnuwun, Pak Is.. 

Banyuanyar, 22 Oktober 2015