 |
Ini anak-anak Mahafisippa UNS waktu Latihan (Diksar XXIX) di Tlogodringo - rik |
GUNUNG LAWU di dekat Padang Cokrosuryo, sekitar tahun 1990 sekian, tepatnya lupa. Pria
sepuh itu melangkah pelan menapaki jalan setapak yang menanjak curam.
Kecepatannya konstan, tidak cepat tapi jelas bukan karena kekurangan power.
Langkahnya nyaris tak terdengar, mungkin karena perawakannya yang kecil.
''Ayo istirahat dulu sini ...''
Beliau mengeluarkan kompor mini, lalu merebus air. Dalam
waktu singkat, kami sudah menikmati secangkir cokelat panas yang sangat lezat
di tengah dinginnya udara ketinggian 3.000 meter.
Ismadi As, kami biasanya memanggilnya Pak Is, beliau
dedengkot SAR di Jawa Tengah. Malam itu kami sedikit berbincang, kurang lebih
begini:
''Lelah, Pak?''
''Ya... saya sudah tua Mas.'' Senyumnya selalu menyertai setiap
lesan yang terucap.
‘
’Pak Is lambat, tapi dari tadi gak berhenti-berhenti,’’
‘’He he ya wis... mendaki gunung itu memang enaknya gini,
dilaras dan dinikmati. Saya kan masuk ke rumah mahluk lain, sebaiknya
memperkecil gangguan kepada yang punya rumah. Sebenarnya, setiap yang kita bawa
ini bisa mengganggu mereka.’’
Lama setelah itu, saya baru sedikit demi sedikit mengerti,
mahluk lain yang disebut Pak Is, bukanlah para lelembut dan mahluk halus
penguasa gunung seperti yang pikir waktu itu.
Saya memperhatikan, Pak Is pendaki yang melangkah nyaris
tanpa bunyi. Perlengkapan mendaki lengkap meski tak berlebihan. Perbekalan juga selalu cukup untuk sendiri dan berbagi.
Saya perhatikan, Pak Is jarang menyalakan lampu senter kalau tidak perlu, apalagi membawa
radio kecuali radio komunikasi yang dipakai seperlunya. Jelas bukan juga
pendaki yang mencoret-coret batu, membuat api unggun dengan sembrono, mengukir
namanya di pohon apalagi membuang sampah di sepanjang jalan.
Mungkin itu semua makna tidak menganggu makhluk lain.
Kebisingan, mungkin cahaya senter, membuat hewan terusik, selain itu mengurangi
kenikmatan dan kewaspadaan saat di tengah hutan. Saya pernah membuktikan,
berdiam selama beberapa jam tanpa suara sedikit pun di malam hari di hutan.
Berikutnya, suara serangga, rengekan rusa di kejauhan, burung malam, suara daun
terbuai angin, menjadi musik yang indaaaah tak terbantah.
Sekali menyalakan senter, bahkan merokok, akan mengurangi
kemampuan mata melihat di kegelapan. Sebenarnya, mata kita mampu berakomodasi
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saat bulan purnama, adalah saat yang
sangat baik untuk mendaki, karena kita hampir tidak butuh senter.
Hmm.. saya jadi memikirkan sekian puluhan pendaki yang
mengalami kemalangan di gunung. Sekian banyak kerusakan lingkungan: gunung jadi kumuh penuh sampah, hutan terbakar. Banyak yang bisa
saya ingat.
Lalu saya berpikir, kalau mereka mendaki gunung seperti Pak
Ismadi, sebagian besar dari kecelakaan dan kerusakan alam itu sangat mungkin tidak perlu terjadi.
Maturnuwun, Pak Is..
Banyuanyar, 22 Oktober 2015