![]() |
Bangunan bekas pabrik radar di Depohar 50 Lanud TNI Adi Soemarmo | Ari Kristyono |
INDONESIA pernah memiliki angkatan
udara terhebat dan terkuat di belahan bumi selatan. Itu sebelum 1965, diawali
dari persiapan perang merebut Irian Barat ketika Presiden Soekarno memutuskan
memperkuat AURI dengan pesawat-pesawat tempur buatan Uni Sovyet.
Konon, karena kekuatan udara yang tak
sebanding, akhirnya Belanda tanpa syarat melepas Irian menjadi merdeka seperti
pulau dan wilayah Republik Indonesia lainnya.
Semua fasilitas itu meredup dan hilang
setelah rezim Orde Baru berkuasa, menyisakan sejumlah peninggalan yang tak
jarang dimonumenkan. Seperti pesawat Mig 17, helikopter Mi-6, atau pesawat
pembom nan bongsor Tu-16 Badger, acapkali menjadi pajangan penghias kota atau
pangkalan TNI AU.
Di Solo, pesawat seperti itu tak ada.
Tapi, ternyata ada peninggalan lain yang tersembunyi di halaman belakang
Depohar 50 Lanud Adi Soemarmo.
![]() |
Letda Priyatna dan salah satu bekas radar buatan Blok Timur | rik |
Pangkalan TNI AU di barat Kota Solo itu, di
sektor belakang yang jarang dimasuki umum, berdiri sebuah bangunan megah serupa
hanggar pesawat tetapi dinding dan pintunya lebih kokoh.
Bayangkan, alih-alih pelat besi, pintu
geser yang berada di salah satu sisi bangunan itu terbuat dari baja setebal 10
mm paling tidak. Bergelombang. Tingginya mungkin belasan meter, maaf kalau kurang
akurat maklum sudah lewat agak lama. Tapi yakinlah, tak akan sanggup seorang
pria dewasa menggeser pintu itu sendirian.
“Ini dulunya pabrik radar. Kita
membeli radar dari Polandia, lalu dilanjutkan dengan program kerja sama alih
teknologi. Mereka membangun pabrik di sini dan mendidik calon tenaga ahli
Indonesia. Tapi program itu bubar bersamaan dengan runtuhnya rezim Orde Lama,”
tutur seorang perwira Depohar 50, Letda Priyatna, kira-kira setahun lalu.
Sebagai
negara kepulauan, Indonesia pasti butuh radar-radar yang canggih untuk menjaga
kedaulatan wilayah. Karena itulah pastinya, pabrik radar dianggap penting.
Saat ini, TNI AU memiliki 35
stasiun radar tersebar di seluruh pelosok tanah air. Seluruhnya bikinan Barat
dan sudah berusia tua seperti Decca Plessey buatan Inggris (1962), Thomson TRS
buatan Perancis (1982) dan yang terbaru Master T buatan Perancis (2005).
Apakah jumlah itu cukup memadai? Tak ada penjelasan
saat itu. Namun, seorang pilot tempur senior pernah berbisik, radar kita cukup
mampu mendeteksi penyusupan pesawat asing sehingga pesawat tempur kita mampu
melakukan penyergapan.
“Tapi kalau yang menyusup pesawat berkecepatan
tinggi semisal pesawat tempur supersonik, apalagi dilakukan dari beberapa koridor sekaligus, rasanya kita bakal sangat
kewalahan.” :(
Malahan, Komandan Koharmatau (Komando Pemeliharaan
Material Angkatan Udara) Marsekal Muda Sumarno saat itu mengakui, ada sekitar
delapan area bolong yang tidak terawasi dengan radar. Areanya tentu
dirahasiakan.
Baiklah, kita tidak jadi punya pabrik radar.
Bangunannya mangkrak setengah kosong, sebagian area hanya digunakan untuk
merawat mobil dinas. Di area lain, ada juga komponen-komponen radar yang tampak
dalam perakitan.
Kita bikin radar sendiri?
“He he, enggak, ini memperbaiki radar-radar yang
sudah ada. Sebagian kita sudah mampu ngakali, maksudnya kita bikin PCB dan
rangkaian lainnya sendiri, jadi sedikit menghemat biaya,” ujar Priyatna.
Yaaah ….
Munggung, 21 Oktober 2015
0 comments:
Post a Comment