• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Tuesday, 20 October 2015

Menelusuri Jejak Pabrik Radar di Pinggir Kota Solo

11:17 // by catatan cah angon // , , // No comments

Bangunan bekas pabrik radar di Depohar 50 Lanud TNI Adi Soemarmo | Ari Kristyono

INDONESIA pernah memiliki angkatan udara terhebat dan terkuat di belahan bumi selatan. Itu sebelum 1965, diawali dari persiapan perang merebut Irian Barat ketika Presiden Soekarno memutuskan memperkuat AURI dengan pesawat-pesawat tempur buatan Uni Sovyet.

Konon, karena kekuatan udara yang tak sebanding, akhirnya Belanda tanpa syarat melepas Irian menjadi merdeka seperti pulau dan wilayah Republik Indonesia lainnya.

Semua fasilitas itu meredup dan hilang setelah rezim Orde Baru berkuasa, menyisakan sejumlah peninggalan yang tak jarang dimonumenkan. Seperti pesawat Mig 17, helikopter Mi-6, atau pesawat pembom nan bongsor Tu-16 Badger, acapkali menjadi pajangan penghias kota atau pangkalan TNI AU.

Di Solo, pesawat seperti itu tak ada. Tapi, ternyata ada peninggalan lain yang tersembunyi di halaman belakang Depohar 50 Lanud Adi Soemarmo. 
Letda Priyatna dan salah satu bekas radar buatan Blok Timur | rik

Pangkalan TNI AU di barat Kota Solo itu, di sektor belakang yang jarang dimasuki umum, berdiri sebuah bangunan megah serupa hanggar pesawat tetapi dinding dan pintunya lebih kokoh.

Bayangkan, alih-alih pelat besi, pintu geser yang berada di salah satu sisi bangunan itu terbuat dari baja setebal 10 mm paling tidak. Bergelombang. Tingginya mungkin belasan meter, maaf kalau kurang akurat maklum sudah lewat agak lama. Tapi yakinlah, tak akan sanggup seorang pria dewasa menggeser pintu itu sendirian.

“Ini dulunya pabrik radar. Kita membeli radar dari Polandia, lalu dilanjutkan dengan program kerja sama alih teknologi. Mereka membangun pabrik di sini dan mendidik calon tenaga ahli Indonesia. Tapi program itu bubar bersamaan dengan runtuhnya rezim Orde Lama,” tutur seorang perwira Depohar 50, Letda Priyatna, kira-kira setahun lalu.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia pasti butuh radar-radar yang canggih untuk menjaga kedaulatan wilayah. Karena itulah pastinya, pabrik radar dianggap penting.

Saat ini, TNI AU memiliki 35 stasiun radar tersebar di seluruh pelosok tanah air. Seluruhnya bikinan Barat dan sudah berusia tua seperti Decca Plessey buatan Inggris (1962), Thomson TRS buatan Perancis (1982) dan yang terbaru Master T buatan Perancis (2005).

Apakah jumlah itu cukup memadai? Tak ada penjelasan saat itu. Namun, seorang pilot tempur senior pernah berbisik, radar kita cukup mampu mendeteksi penyusupan pesawat asing sehingga pesawat tempur kita mampu melakukan penyergapan.

“Tapi kalau yang menyusup pesawat berkecepatan tinggi semisal pesawat tempur supersonik, apalagi dilakukan dari beberapa koridor sekaligus, rasanya kita bakal sangat kewalahan.” :(

Malahan, Komandan Koharmatau (Komando Pemeliharaan Material Angkatan Udara) Marsekal Muda Sumarno saat itu mengakui, ada sekitar delapan area bolong yang tidak terawasi dengan radar. Areanya tentu dirahasiakan.

Baiklah, kita tidak jadi punya pabrik radar. Bangunannya mangkrak setengah kosong, sebagian area hanya digunakan untuk merawat mobil dinas. Di area lain, ada juga komponen-komponen radar yang tampak dalam perakitan.

Kita bikin radar sendiri?

“He he, enggak, ini memperbaiki radar-radar yang sudah ada. Sebagian kita sudah mampu ngakali, maksudnya kita bikin PCB dan rangkaian lainnya sendiri, jadi sedikit menghemat biaya,” ujar Priyatna.


Yaaah …. 

Munggung, 21 Oktober 2015


0 comments:

Post a Comment