• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Friday, 23 September 2016

Pilgub DKI, Langkah Awal SBY Menyelamatkan Indonesia

01:39 // by catatan cah angon // , , , // No comments

Foto pinjam dari news.merahputih.com
AGAR  bisa menengok isi kepala Pak Mantan, barangkali kita harus ikut duduk di salah satu sudut rumah Cikeas yang  megah, dengan joglo agung dan taman asri mengelilingi. Bayangkan beliau duduk di kursi ruang kerjanya yang super rapi dan lengkap layaknya perkantoran modern yang ditata dengan citarasa tinggi.

Maklum, Doktor HC Susilo Bambang Yudhoyono, Jenderal Purnawirawan TNI,  seorang  yang menyukai keteraturan, efisien dan tentu saja kantor semacam itu memberikan rasa superior pada siapa pun yang duduk di kursi utama. Soal Partai Demokrat saat ini posisinya level gurem, itu adalah efek badai politik, semacam  force majeur akibat kesalahan di sana sini yang masih bisa ditangani.

Jangan berpikir ini soal ambisi. Sebagai seorang militer sejati, SBY yakin seyakin-yakinnya, dirinya bukanlah figur yang kemaruk dengan kekuasaan. Namun kegelisahannya adalah soal pekerjaan dua periode yang ternyata belum selesai. Siang malam, mejanya penuh dengan laporan tentang Indonesia yang berada dalam bahaya, disetir oleh tangan setan asing menuju jurang kehancuran.

Saking galaunya, sekarang ini bahkan SBY sudah tak berselera lagi memetik gitar dan menggubah lagu. Jangankan membuat  album, studio musik di belakang rumah pun sudah lama tak ditengoknya.

Rasa was was terbawa dalam mimpi, bahwa Partai Demokratlah yang akan kembali mengembalikan bangsa Indonesia kepada kejayaan. Setidaknya seperti kejayaan 10 tahun dulu, ketika menteri-menteri di kabinet sebagian besar dari partainya, atau dari partai koalisi yang apa boleh buat harus diberi posisi terhormat sebagai mitra juang.

Saat itu Indonesia dalam kondisi aman sejahtera.  Selalu ada alasan untuk kumpul-kumpul bahagia di Cikeas, entah itu kawan separtai atau para menteri. Dan pasti selalu ada peran untuk Ibu Negara yang ramah dan sering berkenan memberikan sumbang saran penting mengenai ini itu demi kepentingan bangsa dan negara tentunya.

Nah, demi menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia itulah kemarin Pak SBY kembali menampung forum curhat para petinggi partai riuh yang kecewa karena barusan merasa ditelikung oleh koalisi yang katanya kekeluargaan tapi faktanya sangat mengecewakan. Diam-diam memasang calon sendiri, malahan ada yang terang-terangan beralih mendukung lawan utama pada hitungan hari-hari akhir.

Peluh menetes di dahi Pak Mantan. Bu Ani duduk tegak dengan mimik serius. Ibas mencoba bersikap sama, tapi konsentrasinya pecah dengan bunyi bip bip HP di saku kemeja lengan panjangnya. Tingkat ketegangan saat itu bisa dibayangkan, sedikit di atas waktu satu-satu menteri dan petinggi partai ditangkapi KPK karena ketahuan berseru-seru “Katakan Tidak Pada(hal) Korupsi” dulu.

Lalu keluarlah sabda:  Sekaranglah waktunya, kita selamatkan Indonesia.... dan tidak tanggung-tanggung, Pak SBY pastilah tidak sekadar memikirkan menang di Pilgub DKI. Ini cuma jalan awal, beliau benar-benar ingin menyelamatkan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Pengorbanan besar dilakukan, sang putra pembarep Agus Harimurti yang karirnya cukup cemerlang di TNI AD diminta pensiun dini demi membangun jalan impian yang sama sekali bukan bermuara di tahun 2017 atau bahkan 2019. Pak Jenderal sepuh pasti memahami, saat terbaik membentangkan layar adalah ketika badai euforia dua periode berakhir pada tahun 2024.

Tak soal jika demi langkah kecil ini harus memborong habis kursi teman koalisi, agar mereka mau mendukung tanpa harus titip calon, yang proses rapatnya saja bisa termehek-mehek semalam suntuk. Indonesia adalah negeri yang kaya makmur,dan selama dua periode lalu bukti-bukti kemakmuran itu cukup signifikan menumpuk  di Cikeas.

Sebuah lakon baru menggulir di kelir wayang di depan kita. Sanggit cerdas ki dalang yang sanggup menampilkan apapun yang tak lazim... Mayor (calon bupati pun biasanya berpangkat minimal kolonel) muda yang ingin merengkuh wahyu, jalannya tentu masih panjang dan halang rintangnya menyimpan lebih banyak kejutan ketimbang medan beranjau yang biasa dia hadapi.

Namun sebelum itu kita akan menonton Sengkuni, Dursasana, Buta Cakil, juga dagelan tamu yang memaksakan kelucuan sebagai strategi bertahan hidup seadanya. Selamat menonton.

Banyuanyar, 23 September 2016

0 comments:

Post a Comment