Sapuan jelaga itu sungguh
tak mampu menutup bara dendam di wajahnya. Siapa pun masih bisa dengan mudah
menemukan, bukan cuma coreng moreng hitam yang menutupi ketampanan satria
berdada kekar itu.
Dendam dan kemarahan telah mencetak otot-otot rahang menjadi
lebih kaku dan bersudut, melenyapkan sama sekali kelenturan bibirnya untuk
tersenyum.
Aswatama, bangsawan
terakhir Hastinapura yang masih hidup itu tak lagi punya cermin sekadar untuk
memastikan polesan penyamarannya cukup memenuhi kebutuhan. Tak seorang pun dari
pihak lawan boleh dengan mudah melihat dan mengetahui penyusupannya.
Tidak,
sebelum nanti dia akan menumpahkan sebanyak mungkin darah musuh-musuhnya.
Nglandhak, itu bukannya
pelanggaran atas Yudagama, Kakang? Kartamarma, satu-satunya sekutu yang masih
tersisa, bertanya samar. Aswatama menganggap itu pertanyaan konyol, datang dari
hati dan kepribadian yang sudah remuk tak berbentuk. Akan percuma saja dijawab.
Dia hanya menyodorkan kaleng jelaga, dan memerintahkan sang pangeran
–seharusnya dialah yang menerima perintah dari adik Sinuhun Duryudana Anumerta – untuk juga
menyamarkan wajahnya.
Memang sangat benar, yudagama
atau peraturan bertempur diberlakukan ketat dalam Bharatayuda yang belum lama
usai.
Medan laga hanya sah di Padang Kurusetra pada siang hari. Prajurit
bertempur satu lawan satu secara seimbang, saling berhadapan dan mengadu
kekuatan serta keahlian olah senjata. Pertempuran yang dimulai terang tanah
akan berakhir saat matahari terbenam, ditandai dengan tiupan sangkakala
panjang. Begitulah aturan yang harus dihormati kedua pihak.
Tetapi, jangan bilang Pandawa
tidak curang. Sebaliknya, mereka sungguh pandai bermain muslihat di sela-sela
aturan, sembari tetap menjaga citra diri seolah tanpa dosa.
Nyeri hati Aswatama
mengingat gugurnya ayahanda Pandhita Dorna, mahaguru tempur yang kesaktiannya
tanpa tanding. Bahkan kewibawaannya mampu membuat ciut nyali para kesatria Pandawa,
tak seorang pun dari mereka berani berdiri dan mancal bertempur melawan bekas
gurunya itu.
Namun, muslihat liciklah
yang mengakhiri semua itu. Pandawa menyiarkan kabar bohong, seolah-olah Aswatama
sudah mati. Maka runtuhlah moril dan semangat hidup sang begawan sepuh. Dan
dalam keadaan termangu beku di tengah medan laga, seorang senapati pihak Pandawa,
Dhestajumena memenggal leher ayahnya.
Tak lama setelah itu, Pandawa
pun menyebar keterangan, membantah telah berlaku curang.
“Yang kami siarkan
adalah kematian Aswatama, seekor gajah pusaka yang membuat kami cukup
terpukul,” demikian jawara diplomasi Bathara Kresna membual.
Sayang tak pernah ada
yang menggugat tipu muslihat itu. Dunia terlalu terpukau dengan cerita berpoles
pencitraan tentang Pandawa Lima yang diposisikan teraniaya belasan tahun hidup
terbuang di belantara. Puntadewa yang berdarah putih, padahal pernah berjudi
juga, bahkan tega mempertaruhkan istrinya sendiri. Harjuna yang dikabarkan
kesatria gemar bertapa, tapi setiap kali meninggalkan kesatrian Madukara
hasilnya justru pulang membawa istri baru.
Sangatlah besar kerugian
Kurawa akibat kalah adu strategi kelicikan. Berpihaknya Bathara Kresna ke Pandawa,
Prabu Salya ke Kurawa, seolah seimbang tapi sebenarnya justru memperlemah
Kurawa terbukti dengan gugurnya Prabu Basukarna.
Prabu Salya yang bertindak
sebagai sais kereta perang, memosisikan kereta justru tepat di ruang tembak
panah Arjuna, sehingga Karna yang notabene menantu Salya pun gugur dengan
kepala terpenggal. Tidak pernah ada penyelidikan tentang itu, semua dianggap
sah sesuai tata tertib pertempuran.
Tipu muslihat lain adalah
Prabu Baladewa yang seharusnya bisa diandalkan berpihak ke Kurawa, tapi sosok
sakti yang sayangnya tidak pernah belajar ilmu tipu daya itu, mau saja mengikuti
anjuran untuk bertapa di Grojogan Sewu, sehingga absen dari Bharatayuda.
Dan siapa peduli terhadap
perilaku bengis Pandawa yang jauh dari sifat kesatria? Prabu Duryudana gugur
dengan cara yang sangat rendah, dihancurkan kakinya dan menemui ajal dengan cara
yang sangat hina untuk seorang ratu agung. Dursasana dibelah dadanya dan darahnya
untuk keramas Drupadi. Rekyana Patih Sengkuni tewas dengan cara ditarik kakinya
hingga raganya koyak terbelah.
Mereka bukan kesatria, hanya
binatang yang haus kuasa, lalu menutupi perilaku busuknya dengan gebyar
menyilaukan kemunafikan. Berbagai dalih dan pembenaran, bisa saja dilakukan,
karena mereka menguasai media dan arus informasi.
“Bahkan dewa pun tidak adil,
mereka memihak Pandawa,” keluh Aswatama geram.
Memanfaatkan gelap malam
dan kelengahan lawan, rasanya bisa dibenarkan. Pandawa tengah dimabukkan oleh
kemenangan, bahkan kedaton Hastinapura sudah mereka kuasai sepenuhnya. Tapi,
cukup seorang Aswatama masih bisa menyakiti mereka dengan satu dan lain cara. Kegelapan
malam akan membantu.
Barangkali sudah waktunya
hukum-hukum perang diubah. Rasanya terlalu usang mempercayai bahwa peperangan
haruslah berlangsung dengan adil. Musuh ada untuk dihancurkan, soal cara
seharusnya tidaklah menjadi masalah.
Kicauan burung malam terdengar
bagai ejekan, ketika di tengah kegelapan dua kesatria mengendap seperti musang, merayap
bagai cacing mendekati bale agung. Kedhaton Hastinapura kini dijaga ketat oleh
prajurit Pandawa. Tetapi sebagai sentana kerajaan, mereka paham setiap alur dan sudut yang bisa digunakan bersembunyi.
Sebelumnya, di garis
belakang persembunyian mereka, sempat hadir Resi Krepa dan Betari Wilutama. Dua
sekutu yang diharapkan membantu dengan kesaktian mereka yang luar biasa.
Namun,
Resi Krepa justru hanya hadir untuk mengingatkan bahwa tindakan mereka tidak
bisa dibenarkan. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan apapun, tak juga memberi
kepuasan. Begawan Sepuh itu tampaknya sudah terlalu muak melihat hasil
peperangan yang menimbulkan derita luar biasa bagi siapa pun, baik yang menang
apalagi yang kalah.
Tidak ada jalan lain,
mereka yang tidak mau membantu sekalian saja disudahi. Aswatama menghunus
pusaka Kyai Cundamanik, satu tikaman lebih dari cukup, raga ringkih Resi Krepa
tumbang berkalang tanah.
Yang pantas disesali
adalah langkah surut Betari Wilutama, ibunda yang selama ini tak pernah
sungguh-sungguh nyata. Bidadari penghuni Kahyangan serba mulia, tapi jangankan
menimang dan membesarkan, kelahiran Aswatama justru berlumur kehinaan karena
dunia mengenalnya dilahirkan oleh seekor kuda betina.
Kemarin, tiba-tiba Ibunda
Wilutama hadir dan memberikan bantuan. Cahaya terang benderang menerangi
terowongan yang digali Aswatama dan Kartamarma untuk menuju ke sarang musuh.
Kesalahan terjadi ketika Aswatama meski sudah bersumpah untuk patuh tidak
menengok ke belakang, merasa penasaran dan menoleh untuk mengetahui sumber
cahaya.
Sepasang payudara Sang
Dewi bersinar. Aswatama tergagap menatap kemolekan yang sama sekali asing.
Bunga dan putik bunda kandung yang seharusnya menjanjikan kehidupan bagi setiap
bayi, tapi tak pernah menghangati dan menyalurkan susu ke raga Aswatama.
Akhir yang pedih. Sang
Dewi bukan hanya marah karena auratnya terlihat oleh anaknya sendiri.
Bantuannya seketika dihentikan, bahkan terucap kutuk Aswatama tidak akan
berumur panjang, niatnya membalas dendam akan kandas. Itu ucapan Wilutama
sebelum mengudara kembali ke Kayangan.
Kembali rasa sakit
menyengat dada. Dikutuk cepat mati oleh ibu kandung yang tak pernah benar-benar
dikenalnya, bukan hari yang baik.
Aswatama memang tak asing dengan sumpah serapah, kutukan, perilaku kasar para
bangsawan Astina selama dia mengabdi. Tapi....
“Duh, Kanjeng Ibu....
baiklah kalau kau memang ingin anakmu segera mati, terjadilah. Tidak akan
kusesali. Hidup juga cuma anak kuda.... he he he heh heh heh,” gelak Aswatama
terdengar aneh, bikin merinding yang mendengar.
Malam itu banjir darah di
paviliun Pandawa. Pancawala dan istrinya Pergiwati, tewas tanpa sempat bangun
dari ranjang. Destajumana terjungkal oleh serangan tiba-tiba. Begitu pun Banowati,
istri Prabu Duryudana yang mencari suaka di Pandawa, roboh. Namun Banowati
sepertinya berhasil membalas menusuk mati Kartamarma.
Aswatama, tentu saja, tidak selamat.
Alur cerita tragis itu
tidak akan terungkap ke luar. Pandawa sebagai penguasa arus informasi tidak akan
membiarkan Aswatama menjadi martir jagoan.
Pengumuman resmi menyebutkan sisa-sisa
gerombolan Kurawa menyusup secara licik dan membunuh keluarga Pandawa yang
sedang lelap tidur.
Mereka juga berniat memerkosa Dewi Banowati yang ada dalam perlindungan Pandawa.
Siaran pers itu
menyebutkan, pengawal Pandawa berhasil melumpuhkan serangan itu.
Bahkan,
Aswatama yang berhasil masuk ke salah satu kamar tidur utama, bisa dilumpuhkan
oleh bayi Parikesit yang baru saja lahir.
Sang Bayi menendang pusaka Pasopati
dan mengenai dada Aswatama hingga tewas seketika.
Parikesit, seketika
dipuja-puji oleh rakyat, sebagai bayi sakti yang pantas memimpin kerajaan
Astinapura di Orde Pandawa.