• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Friday, 20 April 2018

Karena Dendam Aswatama Menjadi Teroris

22:45 // by catatan cah angon // , // No comments




Sapuan jelaga itu sungguh tak mampu menutup bara dendam di wajahnya. Siapa pun masih bisa dengan mudah menemukan, bukan cuma coreng moreng hitam yang menutupi ketampanan satria berdada kekar itu. 

Dendam dan kemarahan telah mencetak otot-otot rahang menjadi lebih kaku dan bersudut, melenyapkan sama sekali kelenturan bibirnya untuk tersenyum.

Aswatama, bangsawan terakhir Hastinapura yang masih hidup itu tak lagi punya cermin sekadar untuk memastikan polesan penyamarannya cukup memenuhi kebutuhan. Tak seorang pun dari pihak lawan boleh dengan mudah melihat dan mengetahui penyusupannya. 

Tidak, sebelum nanti dia akan menumpahkan sebanyak mungkin darah musuh-musuhnya.

Nglandhak, itu bukannya pelanggaran atas Yudagama, Kakang? Kartamarma, satu-satunya sekutu yang masih tersisa, bertanya samar. Aswatama menganggap itu pertanyaan konyol, datang dari hati dan kepribadian yang sudah remuk tak berbentuk. Akan percuma saja dijawab. 

Dia hanya menyodorkan kaleng jelaga, dan memerintahkan sang pangeran –seharusnya dialah yang menerima perintah dari adik Sinuhun Duryudana Anumerta – untuk juga menyamarkan wajahnya.

Memang sangat benar, yudagama atau peraturan bertempur diberlakukan ketat dalam Bharatayuda yang belum lama usai. 

Medan laga hanya sah di Padang Kurusetra pada siang hari. Prajurit bertempur satu lawan satu secara seimbang, saling berhadapan dan mengadu kekuatan serta keahlian olah senjata. Pertempuran yang dimulai terang tanah akan berakhir saat matahari terbenam, ditandai dengan tiupan sangkakala panjang. Begitulah aturan yang harus dihormati kedua pihak.

Tetapi, jangan bilang Pandawa tidak curang. Sebaliknya, mereka sungguh pandai bermain muslihat di sela-sela aturan, sembari tetap menjaga citra diri seolah tanpa dosa.

Nyeri hati Aswatama mengingat gugurnya ayahanda Pandhita Dorna, mahaguru tempur yang kesaktiannya tanpa tanding. Bahkan kewibawaannya mampu membuat ciut nyali para kesatria Pandawa, tak seorang pun dari mereka berani berdiri dan mancal bertempur melawan bekas gurunya itu.

Namun, muslihat liciklah yang mengakhiri semua itu. Pandawa menyiarkan kabar bohong, seolah-olah Aswatama sudah mati. Maka runtuhlah moril dan semangat hidup sang begawan sepuh. Dan dalam keadaan termangu beku di tengah medan laga, seorang senapati pihak Pandawa, Dhestajumena memenggal leher ayahnya.

Tak lama setelah itu, Pandawa pun menyebar keterangan, membantah telah berlaku curang. 

“Yang kami siarkan adalah kematian Aswatama, seekor gajah pusaka yang membuat kami cukup terpukul,” demikian jawara diplomasi Bathara Kresna membual.

Sayang tak pernah ada yang menggugat tipu muslihat itu. Dunia terlalu terpukau dengan cerita berpoles pencitraan tentang Pandawa Lima yang diposisikan teraniaya belasan tahun hidup terbuang di belantara. Puntadewa yang berdarah putih, padahal pernah berjudi juga, bahkan tega mempertaruhkan istrinya sendiri. Harjuna yang dikabarkan kesatria gemar bertapa, tapi setiap kali meninggalkan kesatrian Madukara hasilnya justru pulang membawa istri baru.

Sangatlah besar kerugian Kurawa akibat kalah adu strategi kelicikan. Berpihaknya Bathara Kresna ke Pandawa, Prabu Salya ke Kurawa, seolah seimbang tapi sebenarnya justru memperlemah Kurawa terbukti dengan gugurnya Prabu Basukarna. 

Prabu Salya yang bertindak sebagai sais kereta perang, memosisikan kereta justru tepat di ruang tembak panah Arjuna, sehingga Karna yang notabene menantu Salya pun gugur dengan kepala terpenggal. Tidak pernah ada penyelidikan tentang itu, semua dianggap sah sesuai tata tertib pertempuran.

Tipu muslihat lain adalah Prabu Baladewa yang seharusnya bisa diandalkan berpihak ke Kurawa, tapi sosok sakti yang sayangnya tidak pernah belajar ilmu tipu daya itu, mau saja mengikuti anjuran untuk bertapa di Grojogan Sewu, sehingga absen dari Bharatayuda.

Dan siapa peduli terhadap perilaku bengis Pandawa yang jauh dari sifat kesatria? Prabu Duryudana gugur dengan cara yang sangat rendah, dihancurkan kakinya dan menemui ajal dengan cara yang sangat hina untuk seorang ratu agung. Dursasana dibelah dadanya dan darahnya untuk keramas Drupadi. Rekyana Patih Sengkuni tewas dengan cara ditarik kakinya hingga raganya koyak terbelah.

Mereka bukan kesatria, hanya binatang yang haus kuasa, lalu menutupi perilaku busuknya dengan gebyar menyilaukan kemunafikan. Berbagai dalih dan pembenaran, bisa saja dilakukan, karena mereka menguasai media dan arus informasi. 

“Bahkan dewa pun tidak adil, mereka memihak Pandawa,” keluh Aswatama geram.

Memanfaatkan gelap malam dan kelengahan lawan, rasanya bisa dibenarkan. Pandawa tengah dimabukkan oleh kemenangan, bahkan kedaton Hastinapura sudah mereka kuasai sepenuhnya. Tapi, cukup seorang Aswatama masih bisa menyakiti mereka dengan satu dan lain cara. Kegelapan malam akan membantu.

Barangkali sudah waktunya hukum-hukum perang diubah. Rasanya terlalu usang mempercayai bahwa peperangan haruslah berlangsung dengan adil. Musuh ada untuk dihancurkan, soal cara seharusnya tidaklah menjadi masalah.

Kicauan burung malam terdengar bagai ejekan, ketika di tengah kegelapan dua kesatria mengendap seperti musang, merayap bagai cacing mendekati bale agung. Kedhaton Hastinapura kini dijaga ketat oleh prajurit Pandawa. Tetapi sebagai sentana kerajaan, mereka paham setiap alur dan sudut yang bisa digunakan bersembunyi.

Sebelumnya, di garis belakang persembunyian mereka, sempat hadir Resi Krepa dan Betari Wilutama. Dua sekutu yang diharapkan membantu dengan kesaktian mereka yang luar biasa. 

Namun, Resi Krepa justru hanya hadir untuk mengingatkan bahwa tindakan mereka tidak bisa dibenarkan. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan apapun, tak juga memberi kepuasan. Begawan Sepuh itu tampaknya sudah terlalu muak melihat hasil peperangan yang menimbulkan derita luar biasa bagi siapa pun, baik yang menang apalagi yang kalah.

Tidak ada jalan lain, mereka yang tidak mau membantu sekalian saja disudahi. Aswatama menghunus pusaka Kyai Cundamanik, satu tikaman lebih dari cukup, raga ringkih Resi Krepa tumbang berkalang tanah.

Yang pantas disesali adalah langkah surut Betari Wilutama, ibunda yang selama ini tak pernah sungguh-sungguh nyata. Bidadari penghuni Kahyangan serba mulia, tapi jangankan menimang dan membesarkan, kelahiran Aswatama justru berlumur kehinaan karena dunia mengenalnya dilahirkan oleh seekor kuda betina.

Kemarin, tiba-tiba Ibunda Wilutama hadir dan memberikan bantuan. Cahaya terang benderang menerangi terowongan yang digali Aswatama dan Kartamarma untuk menuju ke sarang musuh. Kesalahan terjadi ketika Aswatama meski sudah bersumpah untuk patuh tidak menengok ke belakang, merasa penasaran dan menoleh untuk mengetahui sumber cahaya.

Sepasang payudara Sang Dewi bersinar. Aswatama tergagap menatap kemolekan yang sama sekali asing. Bunga dan putik bunda kandung yang seharusnya menjanjikan kehidupan bagi setiap bayi, tapi tak pernah menghangati dan menyalurkan susu ke raga Aswatama.

Akhir yang pedih. Sang Dewi bukan hanya marah karena auratnya terlihat oleh anaknya sendiri. Bantuannya seketika dihentikan, bahkan terucap kutuk Aswatama tidak akan berumur panjang, niatnya membalas dendam akan kandas. Itu ucapan Wilutama sebelum mengudara kembali ke Kayangan.

Kembali rasa sakit menyengat dada. Dikutuk cepat mati oleh ibu kandung yang tak pernah benar-benar dikenalnya, bukan hari yang  baik. 

Aswatama memang tak asing dengan sumpah serapah, kutukan, perilaku kasar para bangsawan Astina selama dia mengabdi. Tapi....

“Duh, Kanjeng Ibu.... baiklah kalau kau memang ingin anakmu segera mati, terjadilah. Tidak akan kusesali. Hidup juga cuma anak kuda.... he he he heh heh heh,” gelak Aswatama terdengar aneh, bikin merinding yang mendengar.

Malam itu banjir darah di paviliun Pandawa. Pancawala dan istrinya Pergiwati, tewas tanpa sempat bangun dari ranjang. Destajumana terjungkal oleh serangan tiba-tiba. Begitu pun Banowati, istri Prabu Duryudana yang mencari suaka di Pandawa, roboh. Namun Banowati sepertinya berhasil membalas menusuk mati Kartamarma.  

Aswatama, tentu saja, tidak selamat.

Alur cerita tragis itu tidak akan terungkap ke luar. Pandawa sebagai penguasa arus informasi tidak akan membiarkan Aswatama menjadi martir jagoan. 

Pengumuman resmi menyebutkan sisa-sisa gerombolan Kurawa menyusup secara licik dan membunuh keluarga Pandawa yang sedang lelap tidur. 

Mereka juga berniat memerkosa Dewi Banowati yang ada dalam perlindungan Pandawa.

Siaran pers itu menyebutkan, pengawal Pandawa berhasil melumpuhkan serangan itu. 

Bahkan, Aswatama yang berhasil masuk ke salah satu kamar tidur utama, bisa dilumpuhkan oleh bayi Parikesit yang baru saja lahir. 

Sang Bayi menendang pusaka Pasopati dan mengenai dada Aswatama hingga tewas seketika.

Parikesit, seketika dipuja-puji oleh rakyat, sebagai bayi sakti yang pantas memimpin kerajaan Astinapura di Orde Pandawa.

Banyuanyar, 21 April 2018