![]() |
Foto pinjam dari news.merahputih.com |
AGAR bisa menengok isi kepala Pak Mantan, barangkali kita
harus ikut duduk di salah satu sudut rumah Cikeas yang megah, dengan joglo agung dan taman asri
mengelilingi. Bayangkan beliau duduk di kursi ruang kerjanya yang super rapi dan
lengkap layaknya perkantoran modern yang ditata dengan citarasa tinggi.
Maklum, Doktor HC Susilo Bambang Yudhoyono, Jenderal
Purnawirawan TNI, seorang yang menyukai keteraturan, efisien dan tentu
saja kantor semacam itu memberikan rasa superior pada siapa pun yang duduk di
kursi utama. Soal Partai Demokrat saat ini posisinya level gurem, itu adalah
efek badai politik, semacam force majeur
akibat kesalahan di sana sini yang masih bisa ditangani.
Jangan berpikir ini soal ambisi. Sebagai seorang militer
sejati, SBY yakin seyakin-yakinnya, dirinya bukanlah figur yang kemaruk dengan
kekuasaan. Namun kegelisahannya adalah soal pekerjaan dua periode yang ternyata
belum selesai. Siang malam, mejanya penuh dengan laporan tentang Indonesia yang
berada dalam bahaya, disetir oleh tangan setan asing menuju jurang kehancuran.
Saking galaunya, sekarang ini bahkan SBY sudah tak berselera
lagi memetik gitar dan menggubah lagu. Jangankan membuat album, studio musik di belakang rumah pun
sudah lama tak ditengoknya.
Rasa was was terbawa dalam mimpi, bahwa Partai Demokratlah
yang akan kembali mengembalikan bangsa Indonesia kepada kejayaan. Setidaknya
seperti kejayaan 10 tahun dulu, ketika menteri-menteri di kabinet sebagian
besar dari partainya, atau dari partai koalisi yang apa boleh buat harus diberi
posisi terhormat sebagai mitra juang.
Saat itu Indonesia dalam kondisi aman sejahtera. Selalu ada alasan untuk kumpul-kumpul bahagia
di Cikeas, entah itu kawan separtai atau para menteri. Dan pasti selalu ada
peran untuk Ibu Negara yang ramah dan sering berkenan memberikan sumbang saran
penting mengenai ini itu demi kepentingan bangsa dan negara tentunya.
Nah, demi menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia itulah
kemarin Pak SBY kembali menampung forum curhat para petinggi partai riuh yang
kecewa karena barusan merasa ditelikung oleh koalisi yang katanya kekeluargaan
tapi faktanya sangat mengecewakan. Diam-diam memasang calon sendiri, malahan
ada yang terang-terangan beralih mendukung lawan utama pada hitungan hari-hari
akhir.
Peluh menetes di dahi Pak Mantan. Bu Ani duduk tegak dengan
mimik serius. Ibas mencoba bersikap sama, tapi konsentrasinya pecah dengan
bunyi bip bip HP di saku kemeja lengan panjangnya. Tingkat ketegangan saat itu bisa dibayangkan, sedikit di atas waktu satu-satu
menteri dan petinggi partai ditangkapi KPK karena ketahuan berseru-seru “Katakan Tidak Pada(hal) Korupsi” dulu.
Lalu keluarlah sabda: Sekaranglah waktunya, kita selamatkan
Indonesia.... dan tidak tanggung-tanggung, Pak SBY pastilah tidak sekadar
memikirkan menang di Pilgub DKI. Ini cuma jalan awal, beliau benar-benar ingin
menyelamatkan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.
Pengorbanan besar dilakukan, sang putra pembarep Agus
Harimurti yang karirnya cukup cemerlang di TNI AD diminta pensiun dini demi membangun
jalan impian yang sama sekali bukan bermuara di tahun 2017 atau bahkan 2019.
Pak Jenderal sepuh pasti memahami, saat terbaik membentangkan layar adalah
ketika badai euforia dua periode berakhir pada tahun 2024.
Tak soal jika demi langkah kecil ini harus memborong habis
kursi teman koalisi, agar mereka mau mendukung tanpa harus titip calon, yang
proses rapatnya saja bisa termehek-mehek semalam suntuk. Indonesia adalah negeri
yang kaya makmur,dan selama dua periode lalu bukti-bukti kemakmuran itu cukup
signifikan menumpuk di Cikeas.
Sebuah lakon baru menggulir di kelir wayang di depan kita.
Sanggit cerdas ki dalang yang sanggup menampilkan apapun yang tak lazim...
Mayor (calon bupati pun biasanya berpangkat minimal kolonel) muda yang ingin merengkuh wahyu, jalannya tentu masih panjang dan halang
rintangnya menyimpan lebih banyak kejutan ketimbang medan beranjau yang biasa
dia hadapi.
Namun sebelum itu kita akan menonton Sengkuni, Dursasana,
Buta Cakil, juga dagelan tamu yang memaksakan kelucuan sebagai strategi
bertahan hidup seadanya. Selamat menonton.
Banyuanyar, 23 September 2016
Banyuanyar, 23 September 2016