![]() |
Ganjar Pranowo | Antaranews.com |
Ganjar Pranowo tampaknya lagi galau berat. Ini di luar kasus yang menyeret namanya sebagai salah satu penerima bocoran dana e-KTP sewaktu masih di Komisi II DPR RI beberapa tahun lalu. Beberapa pekan ini, Mas Gubernur Ganjar seperti kelimpungan mencoba memperbaiki komunikasinya dengan kalangan pewarta.
Lewat beberapa cara, Ganjar menghubungi satu dua kelompok
wartawan di kotaku, mengajak ketemuan. Juga berkunjung ke kantor beberapa
media. Lalu sempat ada kumpul-kumpul dengan pemimpin media lokal, bahkan
menjanjikan pertemuan yang lebih sering. Untuk apa?
Saya wartawan sejak Jawa Tengah dipimpin oleh Gubernur
Ismail yang kental sekali dengan hobinya menikmati kesenian tradisi. Semua
statement dan wawancara dilakukan sambil senyum, bahkan ketika itu ketika
menkonfirmasi pelarangan budayawan Emha Ainun Najib berbicara di depan publik
di wilayah Jawa Tengah, karena ceramahnya dianggap tidak sesuai dengan jiwa
Pancasila.
Lalu digantikan oleh Gubernur Suwardi, ini masih paket Orba,
saat Jawa Tengah selalu dipimpin oleh Gubernur dari unsur TNI AD, jenderal
bintang dua, yang ditempelkan ke Golongan Karya. Suwardi tergolong irit bicara,
jarang tersenyum, tapi getol mewarnai apa saja dengan cat kuning. Batang pohon,
pagar, karpet, gedung pemerintah, trotoar, seragam, apa saja. Bahkan TNI pernah
berang karena salah satu patung Pangeran Diponegoro kedapatan dicat kuning
sorban dan jubahnya.
Setelah itu reformasi, tapi Jawa Tengah masih dipimpin oleh
tentara. Mardiyanto, seorang yang berwajah kebapakan, senyum sering mengiringi
tuturnya. Tidak pernah terlihat dia marah atau meledak-ledakan emosi di depan
umum. Ya, begitulah yang saya ingat.
Sangat berbeda dengan penggantinya. Lagi-lagi masih tentara,
bahkan jenderal bintang tiga. Mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Bibit
Waluyo, dipercaya PDI Perjuangan untuk menjadi gubernur. Wartawan yang pernah
mewawancarainya pasti ingat gaya bicara dan kelakuan Bibit yang sering
nyelekit, kasar dan sering tidak menjawab pertanyaan.
Baru pertama kali Jawa Tengah memiliki gubernur dari sipil.
Ganjar Pranowo, mestinya menang karena dijagokan PDIP. Sebelum itu wong Jawa
Tengah sedikit sekali pernah mendengar namanya. Perbedaannya dengan Bibit,
Ganjar memang sedikit lebih seolah-olah egaliter, ciri khas kebanyakan politisi
dari partai yang berbasis massa wong cilik.
Tapi mewawancarai Ganjar harus siap dengan pertanyaan balik:
kamu wartawan mana, apa kamu sudah riset? Apa sudah tahu masalahnya (la kalau
tau ngapain tanya) ? Dan jawaban-jawaban tak komunikatif seperti itu.
Sekian gubernur berlalu dan pembangunan di Jawa Tengah ya
begitu-begitu saja. Bukan soal pesat atau kurang. Begitu-begitu saja, maksudnya
ya sudah berjalan seperti di provinsi lain. Infrastruktur tumbuh di sana-sini,
tapi jalan2 provinsi tiap tahun bopeng berantakan. Waduk dibangun, tapi saluran
irigasi mungkin hancur. Dan sekian plus minus lainnya, yang membuat Jawa Tengah
tidak pernah lebih menonjol gemilang dibandingkan dengan daerah lain.
Saya ingat, Jokowi waktu masih Walikota Solo pernah
dikabarkan akan dicalonkan jadi Gubernur Jateng. Saya kebetulan yang
mengkonfirmasi kabar itu, dan Jokowi menjawab kalau diizinkan memilih dia akan
menolak menjadi Gubernur Jateng, dan lebih tertarik menjadi Gubernur DKI dan
memang akhirnya demikian.
Alasannya, sebagian off the record. Tapi antara lain, Jokowi
mengakui tidak mudah membangun Jawa Tengah dengan anggaran pembangunan yang
kecil dibandingkan dengan luasnya wilayah. Belum lagi sekarang ini era otonomi
daerah yang membuat penguasa kabupaten dan kota seperti raja-raja kecil dan
agak sulit memikirkan kepentingan yang lebih luas dari wilayah mereka.
Sekian gubernur berlalu, dan saya percaya bahwa tidak satu
pun di antara para pejabat itu yang harus jauh-jauh dari Semarang ke Solo hanya
untuk berdialog. Kalaupun ingin ketemu, sebaiknya dalam forum diskusi dengan
tema aktual yang sudah ditentukan. Yang hadir tak usah dibatasi wartawan senior
atau pimpinan media atau reporter magang, toh yang hadir tetap akan terbatas
mereka yang punya kepentingan dengan berita, selama ada kepastian pertemuan itu
steril tanpa .... hmmm you know what I mean.
Lalu berkomunikasilah dengan gamblang, tidak beretorika,
tidak plinthat-plinthut. Bila kurang pede dengan kemampuan berkomunikasi,
cobalah ajak tokoh atau pakar sesuai tema, yang bisa lebih memperkaya tulisan
kami nanti. Setidaknya ajaklah moderator yang bisa mengelola diskusi menjadi
forum yang hidup dan bernas, sebaiknya bukan dari wartawan juga.
Setelah pulang dari pertemuan, apakah semua pihak akan puas?
Embuh, tapi ini memang bukan soal siapa memuaskan siapa. Ini cuma menyambung
komunikasi yang beku dan macet. Ada sekian banyak persoalan di Jawa Tengah yang
mungkin ingin diketahui dan perlu ditulis wartawan, alangkah menyenangkan kalo
narasumber primer mau menjelaskan dengan data yang cukup, dalam suasana yang
tidak kemrungsung seperti saat wawancara doorstop.
Mas Gubernur, karena tugas dan eksistenti wartawan adalah
berita. Maka kami harus menjaga berjarak sepantasnya, agar sikap skeptis dan
kritis tetap terjaga.
Bahkan jika MBOTEN KORUPSI, MBOTEN NGAPUSI adalah slogan
yang masih sampeyan jaga, maka tugas kami adalah bersikap MBOTEN PITADOS.
Demikian.
Banyuanyar, 18-3-2017