• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Wednesday, 21 October 2015

Mendaki Gunung, Belajar dari Pak Ismadi

22:03 // by catatan cah angon // , , // 7 comments

Ini anak-anak Mahafisippa UNS waktu Latihan (Diksar XXIX) di Tlogodringo - rik


GUNUNG LAWU di dekat Padang Cokrosuryo, sekitar tahun 1990 sekian, tepatnya lupa. Pria sepuh itu melangkah pelan menapaki jalan setapak yang menanjak curam. Kecepatannya konstan, tidak cepat tapi jelas bukan karena kekurangan power. Langkahnya nyaris tak terdengar, mungkin karena perawakannya yang kecil.

''Ayo istirahat dulu sini ...''

Beliau mengeluarkan kompor mini, lalu merebus air. Dalam waktu singkat, kami sudah menikmati secangkir cokelat panas yang sangat lezat di tengah dinginnya udara ketinggian 3.000 meter.
Ismadi As, kami biasanya memanggilnya Pak Is, beliau dedengkot SAR di Jawa Tengah. Malam itu kami sedikit berbincang, kurang lebih begini:

''Lelah, Pak?''

''Ya... saya sudah tua Mas.'' Senyumnya selalu menyertai setiap lesan yang terucap.
’Pak Is lambat, tapi dari tadi gak berhenti-berhenti,’’

‘’He he ya wis... mendaki gunung itu memang enaknya gini, dilaras dan dinikmati. Saya kan masuk ke rumah mahluk lain, sebaiknya memperkecil gangguan kepada yang punya rumah. Sebenarnya, setiap yang kita bawa ini bisa mengganggu mereka.’’

Lama setelah itu, saya baru sedikit demi sedikit mengerti, mahluk lain yang disebut Pak Is, bukanlah para lelembut dan mahluk halus penguasa gunung seperti yang pikir waktu itu.

Saya memperhatikan, Pak Is pendaki yang melangkah nyaris tanpa bunyi. Perlengkapan mendaki lengkap meski tak berlebihan. Perbekalan juga selalu cukup untuk sendiri dan berbagi. 

Saya perhatikan, Pak Is jarang menyalakan lampu senter kalau tidak perlu, apalagi membawa radio kecuali radio komunikasi yang dipakai seperlunya. Jelas bukan juga pendaki yang mencoret-coret batu, membuat api unggun dengan sembrono, mengukir namanya di pohon apalagi membuang sampah di sepanjang jalan.

Mungkin itu semua makna tidak menganggu makhluk lain. Kebisingan, mungkin cahaya senter, membuat hewan terusik, selain itu mengurangi kenikmatan dan kewaspadaan saat di tengah hutan. Saya pernah membuktikan, berdiam selama beberapa jam tanpa suara sedikit pun di malam hari di hutan. Berikutnya, suara serangga, rengekan rusa di kejauhan, burung malam, suara daun terbuai angin, menjadi musik yang indaaaah tak terbantah.

Sekali menyalakan senter, bahkan merokok, akan mengurangi kemampuan mata melihat di kegelapan. Sebenarnya, mata kita mampu berakomodasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saat bulan purnama, adalah saat yang sangat baik untuk mendaki, karena kita hampir tidak butuh senter.

Hmm.. saya jadi memikirkan sekian puluhan pendaki yang mengalami kemalangan di gunung. Sekian banyak kerusakan lingkungan: gunung jadi kumuh penuh sampah, hutan terbakar.  Banyak yang bisa saya ingat.

Lalu saya berpikir, kalau mereka mendaki gunung seperti Pak Ismadi, sebagian besar dari kecelakaan dan kerusakan alam itu sangat mungkin tidak perlu terjadi.


Maturnuwun, Pak Is.. 

Banyuanyar, 22 Oktober 2015

7 comments:

  1. boleh share ya mas .....saya dulu bawahan mas jambret .....

    ReplyDelete
  2. Hehehehe,, andaikan saya pernah mendaki bareng beliau, mgkn saya bisa belajar menghayati berteman dg alam, mgkn jg kebiasaan saya yg bawa senter, bawa hp & dengar musik juga berjalan gedebugan, cepat2,, tidak melekat pada diri saya.
    Sayangnya saya blm pernah mengenal beliau ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari yang aku simak, banyak pendaki sudah bertemu dan bergaul dengan Pak Ismadi. Tidak semua bisa dan mau menangkap dan menghargai ''ajaran'' itu dengan baik.

      Delete
  3. Kenthos belajar dan menyimak... Sebab banyak kenthos kurang paham teknik spt ini... Jangankan untuk belajar, ke hutan saja jarang.. sgt inspiratif

    ReplyDelete