![]() |
Fotonya pinjam dari Batam Today |
TUHAN agaknya terus-terusan menguji Presiden Jokowi. Menjelang setahun
kepemimpinannya kita dihajar dengan kurs dollar dan krisis ekonomi yang
menghajar banyak negara. Di sini Jokowi lulus, mampu meredam dan bak kapal
niaga melewati perairan berkarang, perekonomian Indonesia meski melambat
berhasil selamat dari karam, bahkan masih tercepat dari negara-negara lain.
Sekarang kebakaran hutan yang membuat Indonesia seperti
mencekik rakyatnya sendiri, plus menjadi eksportir asap terbesar di Asia
Tenggara. Bencana asap sudah terjadi lebih dari 10 tahun, tapi tahun ini sangat
parah. Berdasarkan alat ukur yang dimiliki pemerintah, kualitas udara di
Sumatra dan Kalimantan, beberapa pekan ini sangat jauuuuh di atas ambang batas
aman. Angkanya beberapa kali lipat dari yang terjadi tahun lalu.
Sisi baiknya, pemerintah jujur mengakui soal kondisi yang
sangat buruk ini, yang mungkin tak akan terjadi saat rezim Soeharto dulu.
Permasalahannya, sampai kapan? Dulu sewaktu Capres, mungkin
dia belum memiliki cukup data tentang carut-marutnya situasi yang berkaitan
dengan pembakaran lahan. Tentang perilaku pengusaha perkebunan sawit. Tentang
regulasi pemerintah daerah yang mengizinkan pembakaran lahan. Maka dia berjanji
tahun 2015 tidak akan ada lagi kabut asap.
Tapi, justru di tahun pertamanya janji itu gagal ditepati.
Menjelang musim hujan adalah saat paling tepat untuk membuka lahan dan mulai
menanam. Cara paling efisien, ya dibakar. Tak peduli lahan sudah terlalu kering,
masa bodoh akibatnya. Pola pikir dan perilaku kemaruk ini diperparah dengan
fenomena alam El Nino yang membuat kebakaran di mana-mana menjadi tak
terkendali. NASA pun mengakui, kebakaran yang memuncak di pertengahan Oktober
ini sudah kelewat parah dan susah ditanggulangi.
Pak Jokowi, berterimakasihlah kepada Tuhan karena ujian ini
tidak tanggung-tanggung. Dengan kondisi luar biasa seperti ini, semua faktor di
balik kebakaran menjadi terungkap. Siapa saja yang kini tengah disidik Polri,
perusahaan apa yang sampai diboikot negara tetangga, kondisi geologi lahan yang
terbakar, cara-cara pemadaman api yang gagal dan yang berhasil, alat dan
infrastruktur apa yang harus diadakan. Siapa pejabat yang komitmen dan siapa yang
menggunting dalam lipatan.
Tangkaplah itu dengan cerdas seperti biasa, lalu ciptakan
cara untuk menghajar semuanya sampai tuntas.
Tanpa Jokowi pun, kebakaran hutan akan sirna beberapa pekan
lagi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana kemarin mengumumkan ramalan hujan
akan mulai turun tanggal 27 Oktober besok. Semoga deras, rata dan lama.
Tapi, saya percaya Jokowi berbeda dengan pemimpin sebelumnya
yang selalu membiarkan kabut asap terulang lagi (kalau ternyata sama, ya sudah
gak usah dua periode menjabat) setiap tahun. Saat api sudah padam nanti, Jokowi
tentu akan terus bekerja menyempurnakan cara untuk nyaur janjinya saat kampanye
dulu, tahun 2016 kabut asap tak akan mencekik kita lagi.
God bless you, Mr President.
Banyuanyar, 24 Oktober 2015
Artikel yang warbiyasak. melihat jeli dari angle yang tak banyak di;pikirkan orang :)
ReplyDelete